My Library

RIWAYAT PENULIS

19 Jan 2009 - 23:06 WIB

Nakih, itulah orang memanggilku, nama yang cukup aneh memang, tapi aku tidak mau merendahkan diri sendiri dan tidak malu dan gengsi punya nama seperti ini. kata orang Apalah arti sebuah nama! begitulah katanya.

Badruddin adalah nama kepanjanganku, nama badruddin ini diberikan dari seorang guru yang bernama Ust. Ahmad Muhadi . Nama ku dulu adalah Nakih ya segitu aja. Namun berkat baliaulah namaku menjadi panjang yaitu Nakih Badruddin Badruddin ini diberikan ketika aku duduk di kelas V SD yang ketika itu aku sekolah di MI Nurul Azhar. Akupun senang punya nama ini, kalau diartikan katanya! Nakih artinya adalah nikah dan Badruddin adalah Bulan Purnama Agama. jadi kalau disatuin artinya Nikah di bulan Purnama Agama. yamudah-mudahan aja menjadi nyata .jadi nikah di bulan purnama agama!!! tapi bulan apa itu ya? yang aku tahu sich bulan cuma dari Januari sampe Desember.

Bekasi, 07 Januari 1985, inilah tanggal lahir ku. ketika aku dilahirkan oleh ibu ku ternyata alangkah bahagianya ayah dan ibu ku. Karena setiap kali ibu ku melahirkan mesti anaknya meninggal Dunia.maka dari itulah kebahagiaan yang sangat besar bagi mereka, karena aku lahir dan hidup. dan saking sayang dan senangnya aku pun tak dilepas-lepas dari gedongannya tatkala ibuku bekerja ayahlah yang menggedongku, begitulah juga dengan ayah, jika ayahku bekerja ibuku yang menggendong. Disinilah aku bersyukur kepada Allah yang maha pengasih dan maha penyayang, karena diberikan orang tua yang menyayangiku.

Pada waktu umurku kurang lebih 3 tahun Allah berkata lain, Ayahku di panggil Nya. betapa sedihnya ibuku ketika ayahku meninggal. Seandainya aku bisa berbicara dikala itu, aku akan memohon kepada Allah Ya Allah kenapa ketika Aku dilahirkan, ayahku yang engkau ambil! padahal beliau sangat menyayangi ku dengan sangat!!! seandainya ku boleh memohon ya Allah kembalikanlah Ayahku!!. tapi, inilah suratan kehidupan yang tak boleh kita ingkari. Kita manusia hanya boleh berencana sedangkan Allahlah yang menentukannya.

Lubangbuaya, Setu-Bekasi, inilah alamat rumah rumahku. Sebelumnya rumah ku di Pekopen, Tambun, Bekasi. Ketika ayahku meninggal aku pindah rumah di Cijengkol-Setu-Bekasi, tidak jauh dari tempat ku tinggal hanya beda kampung saja, dan tepatnya di tempat kediaman nenek ku. Disinilah aku hidup bersama Ibuku yang tinggal sendiri dan di dampingi neneku yang bertetanggaan. Tak lama kemudian ibuku menikah lagi, dengan pernikahan kedua ini ibuku mempunyai seorang anak lagi yang diberi nama Julianto, karena mungkin lahirnya di bulan Juli maka di namain Julianto.

Selang beberapa waktu aku memulai sekolah di Sekolah Dasar dengan usia yang cukup relatif seperti halnya anak-anak yang lain. Di sekolah ini aku mempunyai banyak teman yang cukup baik.

 

bersambung


TAGS