Februari 21
GERAKAN SHALAT BERMANFAAT UNTUK KESEHATAN TUBUHShalat ternyata tidak hanya menjadi amalan utama di akhirat nanti, tetapi gerakan-gerakan shalat paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia. Bahkan dari sudut medis, shalat adalah gudang obat dari berbagai jenis pnyakit.
Allah, Sang Maha Pencipta, tahu persis apa yang sangat dibutuhkan oleh ciptaanNya, khususnya manusia. Semua perintahNya tidak hanya bernilai ketakwaan, tetapi juga mempunyai manfaat besar bagi tubuh manusia itu sendiri. Misalnya, puasa, perintah Allah di rukun Islam ketiga ini sangat diakui manfaatnya oleh para medis dan ilmuwan dunia barat. Mereka pun serta merta ikut berpuasa untuk kesehatan diri dan pasien mereka.
Begitu pula dengan shalat. Ibadah shalat merupakan ibadah yang paling tepat untuk metabolisme dan tekstur tubuh manusia. Gerakan-gerakan di dalam shalat pun mempunyai manfaat masing-masing. Misalnya:
Takbiratul Ihram
Berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar tlinga, lalu melipatnya di depan perut atau dada bagian bawah. Gerakan ini bermanfaat untuk melancarkan aliran darah, getah bening (limfe), dan kekuatan otot lengan. Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancer ke seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancer. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas.
Ruku’
Ruku’ yang sempurna ditandai tulang belakang yang lurus sehingga bila diletakkan segelas air di atas punggung tersebut tak akan tumpah. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang. Gerakan ini bermanfaat untuk menjaga kesempurnaan posisi serta fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat saraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi untuk merelaksasikan otot-otot bahu hingga ke bawah. Selain itu, rukuk adalah sarana latihan bagi kemih sehingga gangguan prostate dapat dicegah.
I’tidal
Bangun dari ruku’, tubuh kembali tegak setelah mengangkat kedua tangan setinggi telinga. I’tidal merupakan variasi dari postur setelah ruku’ dan sebelum sujud. Gerakan ini bermanfaat sebagai latihan yang baik bagi organ-organ pencernaan. Pada saat I’tidal dilakukan, organ-organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Tentu memberi efek melancarkan pencernaan.
Sujud
Menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi pada lantai. Posisi sujud berguna untuk memompa getah bening ke bagian leher dan ketiak. Posis jantung di atas otak menyebabkan daerah kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Oleh karena itu, sebaiknya lakukan sujud dengan tuma’ninah, tidak tergesa-gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Posisi seperti ini menghindarkan seseorang dari gangguan wasir. Khusus bagi wanita, baik ruku’ maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan.
Duduk di antara sujud
Duduk setelah sujud terdiri dari dua macam yaitu iftirosy (tahiyat awal) dan tawarru’ (tahiyat akhir). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki. pada saat iftirosy, tubuh bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan saraf nervus Ischiadius. Posisi ini mampu menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Duduk tawarru’ sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih (uretra), kelenjar kelamin pria (prostate) dan saluran vas deferens. Jika dilakukan dengan benar, posisi seperti ini mampu mencegah impotensi. Variasi posisi telapak kaki pada iftirosy dan tawarru’ menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak kita.
Salam
Gerakan memutar kepala ke kanan dank e kiri secara maksimal. Salam bermanfaat untuk bermanfaat untuk merelaksasikan otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran darah di kepala sehingga mencegah sakit kepala serta menjaga kekencangan kulit wajah.
Gerakan sujud tergolong unik. Sujud memiliki falsafah bahwa manusia meneundukkan diri serendah-rendahnya, bahkan lebih rendah dari pantatnya sendiri. Dari sudut pandang ilmu psikoneuroimunologi (ilmu mengenai kekebalan tubuh dari sudut pandang psikologis) yang di dalami Prof. Soleh, gerakan ini mengantarkan manusia pada derajat setinggi-tingginya. Mengapa?
Dengan melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih untuk menerima banyak pasokan oksigen. Pada saat sujud, posisi jantung berada di atas kepala yang memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tuma’ninah dan kontinu dapat memicu peningkatan kecerdasan seseorang.
Setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara normal. Darah tidk akan memasuki urat saraf di dalam otak melainkan ketika seseorang sujud dalam shalat. Urat saraf tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini berarti, darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikuti waktu shalat, sebagaimana yang telah diwajibkan dalam Islam.
Riset di atas telah mendapat pengakuan dari Harvard University, Amerika Serikat. Bahkan seorang dokter berkebangsaan Amerika yang tak dikenalnya menyatakan diri masuk Islam setelah diamdiam melakukan riset pengembangan khusus mengenai gerakan sujud. Di samping itu, gerakan-gerakan dalam shalat sekilas mirip gerakan yoga ataupun peregangan (stretching). Intinya, berguna untuk melenturkan tubuh dan melancarkan peredaran darah. Keunggulan shalat dibandingkan gerakan lainnya adalah di dalam shalat kita lebih banyak menggerakkan anggota tubuh, termasuk jari-jari kaki dan tangan.
Sujud adalah latihan kekuatan otot tertentu, termasuk otot dada. Saat sujud, beban tubuh bagian atas ditumpukan pada lengan hingga telapak tangan. Saat inilah kontraksi terjadi pada otot dada, bagian tubuh yang menjadi kebanggan wanita. Payudara tak hanya menjadi lebih indah bentuknya tetapi juga memperbaiki fungsi kelenjar air susu di dalamnya.
Masih dalam posisi sujud, manfaat lain yang bisa dinikmati kaum hawa adalah otot-otot perut (rectus abdominis dan obliqus abdominis externus) berkontraksi penuh saat pinggul serta pinggang terangkat melampaui kepala dan dada. Kondisi ini melatih organ di sekitar perut untuk mengejan lebih dalam dan lebih lama yang membantu dalam proses persalinan. Karena di dalam persalinan dibutuhkan pernapasan yang baik dan kemampuan mengejan yang mencukupi. Bila otot perut telah berkembang menjadi lebih besar dan kuat, maka secara alami, otot ini justru menjadi elastis. Kebiasaan sujud menyebabkan tubuh dapat mengembalikan dan mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali (fiksasi).
Setelah melakukan sujud, kita melakukan gerakan duduk. Dalam shalat terdapat dua jenis duduk: iftirosy (tahiyat awal) dan tawaru’ (tahiyat akhir). Hal terpenting adalah turut berkontraksinya otot-otot daerah perineum. Bagi wanita, di daerah ini terdapat tiga liang yaitu liang persenggamaan, dubur untuk melepas kotoran, dan saluran kemih. Saat tawarru’, tumit kaki kiri harus menekan daerah perineum. Punggung kaki harus diletakkan di atas telapak kaki kiri dan tumit kaki kanan harus menekan pangkal paha kanan. Pada posisi ini tumit kaki kiri akan memijit dan menekan daerah perineum. Tekanan lembut inilah yang memperbaiki organ reproduksi di daerah perineum.
Pada dasarnya, seluruh gerakan shalat bertujuan meremajakan tubuh. Jika tubuh lentur, kerusakan sel dan kulit sedikit terjadi. Apalagi jika dilakukan secara rutin, maka sel-sel yang rusak dapat segera tergantikan. Regenerasi pun berlangsung dengan lancar. Alhasil, tubuh senantiasa bugar.
Menuru penelitian Prof. Dr. Muhammad Soleh dalam desertasinya yang berjudul “Pengaruh Shalat Tahajud terhadap Peningkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Neuroimunologi” dengan desertasi itu, Soleh berhasil meraih gelar doctor dalam bidang ilmu kedokteran pada program pasca sarjana Universitas Surabaya yang dipertahankannya beberapa waktu lalu.
Shalat tahajud ternyata bukan hanya sekedar shalat tambahan (sunah muakkad), tetapi jika dilakukan secara rutin dan ikhlas akan bisa mengatasi penyakit kanker. Secara medis, shalat tahajud mampu menumbuhkan respons ketahanan tubuh (imunologi) khususnya pada imunoglobin M, G, A, dan limfositnya yang berupa persepsi serta motivasi positif. Selain itu, juga dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi.
Selama ini, ulama melihat ikhlas hanya sebagai persoalan mental psikis. Namun, sebetulnya permasalahan ini dapat dibuktikan dengan teknologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai misteri dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol dengan parameter kondisi tubuh. Pada kondisi normal, jumlah kortisol pada pagi hari normalnya antra 38-690 nmol/liter. Sedangkan pada malam hari atau setelah pukul 24.00, jumlah ini meningkat menjadi 69-345 nmol/liter.
“Kalau jumlah hormone kortisolnya normal, dapat diindikasikan bahwa orang tersebut tidak ikhlas karena merasa tertekan. Demikian juga sebaliknya,” ujarnya seraya menegaskan temuannya ini membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama Islam semata-mata dogma atau doktrin.
Menurut Dr. Soleh, orang stress biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker dan infeksi. Dengan melakukan tahajud secara rutin dan disertai perasaan ihklas serta tidak terpaksa, seseorang akan memiliki respon imun yang baik serta besar kemungkinan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker. Berdasarkan perhitungan medis, shalat tahajud yang demikian menyebabkan seseorang memiliki ketahanan tubuh yang baik.
Sumber: Eramuslim

Januari 19
Keajaiban Hati
Bermula lafaz Qalbun atau hati dan lafaz Ruh dan lafaz Nafsu dan lafaz Aqal itu walaupun bersalah-salahan mafhumnya(maksudnya) tetapi bersamaan makna pada hakikatnya. Sebab itulah telah menyatakan Imam Ghazali rahimaLlahi Taala dengan katanya;
Makna Qalbun atau Hati
Maka lafaz Qalbun yakni hati diistilahkan bagi dua makna seperti mana berikut;
Makna Pertama ialah daging yang rupanya seperti buah kayu sanubari yang ditaruh di dalam pihak kiri daripada dada dan di dalam batinnya itu berlubang tempat diam darah yang hitam iaitu tempat terbit ruh dan tempat keluarnya ruh. Dan daging yang dinamakan hati itu yang atas rupa buah sanubari itu ada juga terdapat pada binatang dan orang mati.
Makna Kedua ialah Latiifatul Rabbaniyah Ruhaniyah yakni jisim yang halus yang dibangsakan kepada TuhanNya. Inilah hakikat Ruh manusia seperti firman Allah; {Kata olehmu ya Muhammad; bermula Ruh itu perbuatan Tuhanku). Dan adalah baginya berhubung dengan daging yang bernama hati sanubari itu. Adalah hati yang bernama Latiifatul Rabbaniyah inilah yang mengetahui akan Allah dan yang mendapat(mencapai) olehnya bagi sesuatu yang tidak mampu didapat dan dicapai oleh khayal dan waham. Adalah hati yang bernama Latiifatul Rabbaniyah inilah Hakikat Insan dan iaitu yang dikhitob oleh Allah Taala di dalam Alam Arwah dengan firmanNya; (Alastu birabbikum Qaalu bala ertinya Tiadakah Aku Tuhan Kamu?. Maka berkata sekelian ruh itu; “Bahkan! Engkau Tuhan Kami”}.
Dan kepada makna kedua inilah diisyaratkan dengan firmanNya; {Bahawasanya di dalam demikian itu merupakan peringatan bagi seseorang yang ada baginya hati}.
Dengan itu adalah difahamkan dengan makna yang kedua itu bahawasanya hati itu adalah Ruh jua sebagaimana keterangan pada lafaz Ruh mengikut makna yang kedua mengikut keterangan yang berikutnya.
Makna Ruh
Adapun Lafaz Ruh ada baginya dua makna juga seperti mana berikut;
Makna Pertama, Ruh Tabie namanya iaitu seperti asap yang tempat terbitnya darah yang hitam yang di dalam batin daging; dinamakan dia sebagai Hati Sanubari dahulu itu dan terhambur dengan pengantaraan segala urat-urat yang bergerak dan urat-urat yang memalu di dalam segala suku/juzuk badan . Misalnya itu seperti cahaya pelita di dalam rumah kerana terang segala penjuru yang di dalam rumah, kesan daripada cahaya pelita itu. Inilah makna yang dikehendaki atau dimaksudkan oleh segala orang yang ahli Tabib(kedoktoran) dengan semata-matanya kepada Ruh yakni dinamakan Ruh Tabie itu akan Ruh Haiwani di mana dengan ruh inilah hidup sekelian haiwan; keluar masuk segala nafas dan dengan ruh inilah kekalnya darah di dalam segala badan dan apabila terbit Ruh Tabie ini daripada badan haiwan, maka matilah segala badan haiwan itu dan putuslah nafas dan hilanglah darahnya.
Makna kedua, ialah Latiifatul Rabbaniyah yakni jisim yang halus yang maujud di dalam badan yang dibangsakan kepada perbuatan Tuhan. Samalah seperti makna hakikat Qalbun atau hati dengan makna yang kedua seperti yang tersebut di atas. Maka diketahui daripada ini bahawa lafaz Ruh dan Qalbun itu didatangkan keduanya ini atas makna yang satu iaitu dinamakan Latiifatul Rabbaniyah yang tersebut dan didatangkan keduanya itu atas aturannya yang satu pada hal tiada berbeza dan tiada berlainan melainkan pada ibarat makna pertama jua. Kepada makna yang kedua inilah diisyaratkan akan dia dengan firman Allah; {Dan bertanya mereka itu daripada makna Hakikat Ruh. Maka kata olehmu; Bermula Hakikat Ruh itu daripada perbuatan Tuhanku} kerana hakikat sebenar-benar Ruh itu tidak mengetahuinya melainkan Allah Taala dan orang yang diberiNya Ilmu daripadaNya dengan Ilmu Laduni namanya.
Makna Nafsu
Adapun lafaz nafsu ada baginya dua makna juga.
Makna Pertama, ialah makna yang menghimpunkan ia bagi kuat marah dan kuat syahwat dan berhimpun padanya segala sifat kecelaan dan berhimpun padanya segala maksiat yang batin iaitu maksud dengan sabda Nabi SAW; {Bermula yang terlebih sangat jahat daripada seterumu itu ialah nafsumu yang antara dua lambung itu} Inilah yang disuruh kamu memeranginya dan disuruh memecahkannya. Dinamakan nafsu kepada makna yang pertama ini akan Nafsu Ammarah yang disebutkan oleh Allah Taala pada hal menghikayatkan akan hal Nabi Yusof. Menyatakan Allah akan Nafsu Ammarah itu dengan katanya; {Tiadalah aku menyucikan diriku daripada kejahatan bahawasanya nafsu itu sangat menyuruh dengan berbuat kejahatan}.
Makna Kedua, daripada makna nafsu itu ialah Latiifatul Rabbaniyah yakni jisim yang halus yang dibangsakan kepada perbuatan Tuhan. Ianya tidak lain malah sama dan satu makna juga dengan makna Ruh dan Qalbun. Ini bererti makna Qalbun, Ruh dan Nafsu mengikut makna yang keduanya adalah satu jua iaitu Latiifatul Rabbaniyah. Lafaz nafsu itu diisti’malkan(dipakaikan) oleh ulama Ahi Sufi atas makna satu jua iaitu jisim yang halus yang tiada diserupakan bagi segala jisim yang kasar itu. Nur bukan seperti nur suatu yang zhohir pada hal tempat terbitnya adalah di dalam hati daging sanubari itu; dan mesra ia kepada segala badan dan kepada segala anggota. Inilah hakikat Ruh dan Hakikat Insan yang dengannya berbeza manusia daripada segala haiwan yang lain daripada makhluk.
Makna Akal
Bermula lafaz Akal adalah baginya beberapa bilangan makna.
Makna pertama, Akal itu ialah sesuatu yang mengetahui hakikat Yang Wajib dan Mustahil dan Yang Jais(Harus) kerana tiada tasawwur(terupa) dalam Akal itu melainkan tiga perkara yaitu;
- Pertama; Wajib iaitu Wujud Allah Taala dan sekelian SifatNya.
- Kedua; Mustahil iaitu seperti Syirik Al-Bari yakni sekutu dibangsakan kepada Ketuhanan.
- Ketiga; Harus yaitu menjadikan sekelian Mumkin(alam ini).
Telah disebutkan oleh Imam Al-Sanusi akan segala hukum akal yang pada makna yang pertama ini; adalah Akal pada makna pertama ini ialah ibarat daripada sifat Ilmu yang tempat terbitnya itu dari dalam hati.
Makna Kedua, Jisim yang adalah nisbah Ilmu dengan dia itu seperti sifatnya(Akal) dan adalah makna kedua itu ialah Latiifatul Rabbaniyah Au Ruhaniyah yakni jisim yang halus yang dibangsakan kepada perbuatan Tuhan dan dibangsakan kepada Ruh sebagaimana makna Qalbun, Ruh dan Nafsu pada makna kedua seperti yang telah disebutkan di atas. Ini adalah kerana tiada dapat muafakat (akan bercanggahan) Akal yang pertama itu ibarat daripada Ilmu dan makna Akal yang kedua itu ialah ibarat daripada Jisim Yang Halus Yang Ruhaniyah yang tempat terbit Ilmu itu. Inilah yang diisyaratkan dengan Sabda Nabi SAW.; {Bermula permulaan sesuatu yang dijadikan oleh Allah itu ialah Akal}; Yang Jisim Yang Halus yang dibangsakan kepada perbuatan Tuhan. Dibangsakan ianya juga kepada Ruh itu ialah hakikat hati pada makna kedua. Maka berfirman Allah Taala bagi Akal; “Berhadap engkau kepada Aku1″ maka berhadap ia(Akal) kepada Allah Taala. Kemudian maka berfirman Allah Taala; “Belakangkan olehmu akan Aku!” Maka membelakangkan ia(akal) hinggalah akhir hadis.
Fahamlah kita daripada hadis ini iaitu Akal pada makna kedua iaitu “Jisim Yang Halus” dan bukan pada makna pertama itu iaitu Hakikat Akal inilah yang mengetahui akan hakikat sesuatu. Tetapi adalah Akal pada makna yang pertama itu ibarat daripada Ilmu yang berdiri kepada Akal pada makna kedua yakni Jisim Yang Halus Rabbani Wa Ruhani (Ketuhanan dan Keruhanian)
Dengan itu ketahuilah olehmu bahawasanya Qalbu, Ruh, Nafsu adalah Akal sekeliannya pada iktibar makna yang kedua kesemuanya itu adalah satu jua iaitu Latifah Rabbaniyah Wa Ruhaniyah iaitu Jisim Yang Halus yang dibangsakan kepada perbuatan Tuhan dan dibangsakan kepada Ruh.
Tidaklah bersalahan lafaz yang empat ini melainkan pada “Iktibar Makna” jua.
Ulasan Suluk
Jika saudara fahamkan apa yang tersirat dan yang menjadi maksud pada keterangan di atas, maka mudahlah bagi anda untuk memahami “Isyarat-isyarat” yang digunakan oleh golongan Tasauf semasa mengucapkan atau menerangkan sesuatu berkenaan tempat atau alat yang menjadi penghubung antara Tuhan(Allah) dan HambaNya iaitu Hati atau Ruh atau Nafsu atau Akal Manusia.
Sesekali mereka akan banyak menggunakan istilah hati jika ingin menerangkan mengenai “kesucian” yang perlu ada pada seorang Salik yang ingin mencapai puncak MakrifatuLlah. Ini adalah kerana dengan hati yang bersih daripada gambar-gambar keduniaan dan suci dari sebarang persekutuan(syirik) sahaja yang akan berupaya mencapai puncak itu. Perhatikan isyarat yang terdapat dalam Kalam Hikmah Sheikh Ibnu Atoillah As-Kandari;
“Bagaimana akan dapat bercahaya hati seorang yang gambar-gambar dunia ini terlukis dalam cermin hatinya; atau bagaimana akan berjalan kepada Allah, padahal kakinya masih tertambat oleh syahwat nafsunya; atau betapa loba(dapat) masuk ke Hadirat Tuhan, padahal ia belum bersih(suci) daripada junub kelalaiannya; atau bagaimana mengharap akan mengerti rahsia-rahsia yang halus, padahal ia belum taubat dari kekeliruannya.”
Pada tempat yang pula, kadang-kadang mereka akan menggunakan istilah Nafsu; terutamanya bila hendak memperkatakan suatu ibarat kepada tingkat-tingkat nafsu atau kebersihan hati yang terpaksa dilalui oleh Ahli-ahli Suluk. Bicara mereka akan menyentuh dari yang sejahat-jahat nafsu iaitu Nafsu Ammarah kepada sesempurna Nafsu iaitu Nafsu Kamaliah yang sebelum perlu bermujahadah dengan wirid atau zikir yang khusus dari Nafsu Lawwamah, Nafsu Mulhimah, Nafsu Muthomainnah, Nafsu Rodiyah dan Nafsu Mardiyah. Sebenarnya peringkat-peringkat nafsu ini adalah merujuk kepada hal-ahwal atau Maqam-maqam yang mereka duduki, bukanlah bermaksud bahawa adanya tingkat-tingkat yang tertentu di sisi Allah Taala. Ada yang membilangnya dengan tiga sahaja dan ada yang menggambarkannya sebagai Tujuh. Keterangan mengenai ini boleh kita ambil contoh daripada pengucapan Aulia Allah Sheikh Abdul Malik Abdullah(Tok Pulau Manis) sepertimana berikut;
Ketahuilah olehmu bahawasanya nafsu itu atas tiga bahagi iaitu
- Lawammah dan
- Amarrah dan
- Muthomainnah
Maka nafsu Lawammah itu iaitu nafsu Haiwaniah(kebinatangan) yang mengekalkan bagi segala syahwat dan nafsu Amarrah itu iaitu nafsu Syaithoniah(keiblisan) yang mengerasi atasnya kasih segala Mukholafat(sesuatu yang menyalahi perintah Allah) dan nafsu Muthomainnah iaitu nafsu Aqliyah(bersifat keruhhan) yang telah suci daripada segala kekeruhan; maka terangkatlah daripadanya segala hijab(sesuatu yang mendindingi).
Sesekali yang lain pula mereka lebih suka menggunakan istilah atau lafaz Ruh, terutamanya bila hendak menunjukkan hubungannya yang erat, hampir dan dekat dengan Tuhan. Imam Ghazali banyak sekali menggunakan istilah Ruh ini dengan memecahkan pula kepada beberapa nama yang lain semasa menjelaskan tentang bicara yang berkaitan dengan Keistimewaan dan Keupayaan Ruh Insan dalam mendapat Ilmu Yang Terus dari Allah Taala. Perhatikan petikan kata-kata beliau ini;
Sebenarnya yang saya maksudkan dengan ‘JIWA’ itu ialah JAUHAR YANG SEMPURNA LAGI TUNGGAL(Al-Jauhar Al-Kamil Al-Mufrad) yang kerjanya hanya
- mengingat
- menghafaz
- memikir membeza dan
- mengamat-amati; juga
- menerima segala ilmu dan
- tidak jemu-jemu menerima rupa-rupa abstrak yang bersih dari benda
Jauhar ini adalah ketua segala ruh dan raja. Segala kekuatan semuanya berkhidmat kepada jauhar ini dan menjunjung perintahnya. Jauhar ini tidak lain tidak bukan dari JIWA BERAKAL (Al-Nafs An-Naathokoh) yang diberikan berbagai-bagai nama. Para ahli falsafah menamakan jauhar ini sebagai JIWA BERAKAL(Al-Naf An-Naathokah).Al-Quran menamakannya sebagai JIWA YANG TENANG(Al-Nafsul Mutomainnah). Al-Quran juga menamakannya sebagai RUH URUSAN (Al-Ruh Al-Amri). Ahli Tasauf menamakannya sebagai QALBU(Al-Qalbi). Perbezaan cuma pada segi nama-nama sahaja tetapi ertinya satu, tidak ada perselisihan. Oleh itu ‘QALBU’ dan ‘RUH’ pada kita juga ‘YANG TENANG’ semua nama-nama itu adalah bagi ‘JIWA BERAKAL’ (Al-Nafs Al-Naathokoh). Jiwa berakal ialah ‘Jauhar yang Hidup’, ‘aktif’, lagi mencapai kalau disebut Ruh Mutlak atau Qalbu. Maksudnya ialah jauhar ini juga.
Pada waktu yang lain pula, Ahli-ahli Sufi ini lebih suka menggunakan istilah atau lafaz Akal bila ingin merujuk kepada sesuatu permulaan yang menjadi tempat tilikan atau asas kesedaran seseorang hamba terhadap TuhanNya. Tempat untuk berfikir, merenung, mengkaji dan memperhalusi sesuatu maklumat yang masuk melalui anggota zhohir dan hati seseorang hamba. Inilah apa yang pernah diisyaratkan oleh Sheikh Ibnu Atoillah dengan katanya;
Dan Qalbun itu isyarat kepada permulaan Akal yang jatuh ia atas Jamal Ilahi pada awal nazhor(tilik).
Dengan itu, jelaslah pada kita sekarang sebahagian daripada keunikan Ilmu Ahli Sufi. Mereka punya istilah dan maksudnya yang tersendiri berdasarkan kepada ibarat-ibarat yang tertentu bagi mengisyaratkan sesuatu yang berupa Latifah Rabbaniyah Wa Ruhaniyah. Sesuailah dengan mereka kerana kehidupan mereka adalah berupakan Kehidupan Keruhanian yang lebih banyak menekankan pengalaman keruhanian daripada semata-mata bercakap dan berbahas mengenai istilah atau sesuatu yang berupa furu’(cabang)
Semoga dapat membantu diriku dan saudara-saudaraku untuk lebih mengenali dan memahami pengucapn-pengucapan dan pengalaman mereka yang dipimpin ke arah “jalan yang benar” ; “jalan yang tidak dimurkai” ; “jalan yang tidak disesati”.



